Posted by : Muhammad Mahfudh June 21, 2013

Semeru
Selamat Datang Di TN Bromo Tengger Semeru
Siapa yang tak tahu keindahan Ranu Kumbolo, yang lokasinya dibuat shooting film 5 CM, untuk tahu keindahan Ranu Kumbolo ikuti aja cerita ini. Sejenak meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran setelah dihajar UAS semester 6, Cerita ini berawal ketika itu saya dan teman-teman berencana pergi ke Bromo akan tetapi yang punya ide awal Wafa ingin ke Ranu Kumbolo. Temen-temen pun stuju untuk pergi ke sana. Jam 1 malam akupun di SMS temen untuk persiapan, karena begitu mendadaknya aku pun bersiap seadanya. Akhirnya kalender menunjukkan hari Rabu, 19 Juni 2013.
ERK 1
ERK 2

Jam pada waktu itu menunjukkan waktu pukul 5 pagi. Handphone mulai beraktifitasnya, SMS mulai mengisi inbox HP-ku. Tajus, ya itulah nama panggilan temenku yang berasal dari Jember berdarah Madura. Tajus pun SMS “otw ke pondok”, lalu ku balas “OK”. Eh aku sendiri belum memperkenalkan diri, hehe.... Temen-temen biasa memanggilku Fudh, akupun di juluki Fudh Narsis ketika setelah dari Ranu Kumbolo, asalku dari Demak Kota Wali ya begitulah julukan dari tempat kelahiranku. Lanjut cerita, lalu tidak lama kemudian temenku Tajus datang menjemputku. Setelah berada di pondokku Tajus pun menelpon temen-temen, “Assalamu’alaikum, ada dimana yan”, telingaku mendengar “otw jus, ketemuan di Mangli”. Yang di telpon Tajus tadi adalah Alvian asli Muncar – Banyuwangi, bedarah Madura. Lanjut cerita kami pun ketemuan di Pom Bensin (SPBU) Mangli, yaitu temen-temen yang ikut ekspedisi ke Ranu Kumbolo diantaranya Tajus; Saya sendiri (Fudh); Alvian; Topan begitu panggilannya, asli Jember; kemudian ada Tata, dengan postur tubuhnya yang tinggi, dan ahli medis yang sudah berpengalaman, asli Jember; kemudian ada Rino (Alias Rino Hoax / Rinokumbolo) sebutan itu muncul setelah ketahuan fotonya ada yang Hoax, setelah dari Ranu Kumbolo baru dapat julukan Rinokumbolo, hehe.... sori no, asli Jember; Kemudian ada Pingkan, asli Jember; dan terakhir ada Winda juga asli Jember.

Makan dulu sebelum mendaki
Kita ber-8 berangkat dari Mangli dengan 4 motor yang masing-masing berboncengan Aku dan Tajus, Alvian dan Topan, Tata dan Pingkan, Rino dan Winda. Kita pun ambil rute dari Jember – Lumajang – Senduro – Ranu Pane –Ranu Kumbolo. Ketika sampai di Lumajang kita berhenti dulu di Foto Copyan untuk Foto Copy identitas. Setelah itu sampai di salah satu supermarket, belanja untuk logistik pendakian, Rino dan Tata cari bahan bakar kompor di Pasar (Katanya sih dikira Uang Kaget, hehe...). Lanjut perjalanan kita ngisi perut dulu sebelum memasuki hutan di Senduro.
Photo dulu di Senduro

Memasuki hutan di Senduro disambut dengan jalan yang tak nyaman kemudian tempat yang sepi dan katanya angker.... Rino juga merasakan hal yang kurang enak ketika sampai di bambu-bambu di Hutan Senduro, tapi kita lewati aja. Beberapa saat kemudian sampai “Selamat Datang di Taman Nasional Semeru, Bromo Tengger”, Kemudian kita istirahat sejenak di sebuah jembatan disana ada mata air yang keluar dari pipa, Hehe.... dan foto-foto’an. Jalan yang sepi sekali dan beberapa yang lewat pencari rumput untuk pakan ternak, pick-up petani sayuran, dan pedagang yang mungkin habis belanja dari kota. Kita pun melanjutkan perjalanan disambut dengan hawa dingin untuk sampai ke Ranu Pane, ketika hampir sampai, kita istirahat sejenak di tebing-tebing yang banyak coretan-coretan. Setelah itu kita lanjut lagi dan akirnya sampai juga di Ranu Pane.

Ngumpul dulu di Fotocopyan
Sesampainya di Ranu Pane kita registrasi dengan menghabiskan biaya Rp. 120ribu. Kemudian beberapa sholat di mushola, setelah sholat selesai kami bersiap dengan mengecek peralatan untuk pendakian, kemudian berdoa dulu “Semoga selamat sampai tujuan”. Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, kita pun berangkat pendakian yang harus sesuai dengan jalan pendakian telah ditentukan. Dalam perjalanan pendakian kita sering berpapasan dengan banyak pendaki lain baik domestik dan beberapa ada dari mancanegara. Kami membawa tas dengan perbekalan masing-masing, Topan dan Alvian bergantian membawa tas Carier yang berisi 2 tenda, Tata membawa 2 tas dengan tasnya Pingkan, yang lain termasuk aku membawa bekal yang seadanya. Kami pun menuju Pos 1, dalam pendakian menuju pos 1, masih pemanasan, hehe... sesampainya di Pos 1 kita istirahat sejenak dan bertemu dengan Mahasiswa dari Bandung dan berbicang-bincang sebentar, kemudian datang juga yang mau turun, kami pun melanjutkan Pendakian menuju Pos 2 yang berjarak 3 km, dalam perjalanan menuju Pos 2, atmosfer pendakian sudah mulai terasa dan udara sudah mulai dingin tapi langit masih cerah, tapi kita disalip pendaki dari Bandung, maklum salah satu dari kita belum ada yang pernah sampai Ranu Kumbolo. Sesampainya di Pos 2, kita pun bertemu lagi dengan Pendaki dari Bandung, disini Rino minta agar kompornya di keluarkan, “Mau Buat teh”, anak-anak banyak yang gojloki (istilah dalam bahasa jawa) setelah pendaki dari Bandung berangkat dan tehnya sudah jadi, eh malah anak-anak banyak yang minta, dibaik-baikin kalau ada perlunya ke Rino, hehe.... kurang lebih pukul 17.00 WIB kita melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 dengan jarak 4,5 km. Dalam perjalanan menuju Pos 3 ini kebersamaan kita ber-8 mulai diuji, salah satu diantara kita ada yang mulai sakit yaitu Pinkan kondisi tubuhnya menurun ditambah hujan pada malam hari yang membuat medan tambah berat. Untunglah dalam team kita punya ahli medis yaitu Tata, dengan sabar dan telaten Tata merawat Pingkan. Yang lainnya pun bekerjasama menuntun jalan yang gelap dan medan yang licin. Sesampainya di Pos 3 kondisi kesehatan Pingkan semakin buruk dan udara semakin rendah. Winda pun memberikan Pingkan minyak kayu putih. Anak-anak berencana menginap di Pos 3 melihat kondisi seperti ini, akan tetapi beberapa berpikir hal-hal yang membahaykan terjadi. Kamudian pendaki lain juga sampai di Pos 3 kamudian kita melanjutkan perjalanan menuju Pos 4 kurang lebih 3 km perjalanan yang lambat karena berhati-hati dengan perlatan yang masih belum memenuhi untuk pendakian, dan sebentar-sebentar istirahat. Melihat ada cahaya di Ranu Kumbolo anak-anak bersemangat kembali kemudian akhirnya sampai juga di Pos 4 dan dinginnya mulai menusuk tulang.
Awal Pendakian

Hampir ke Pos 1

Setelah sampai di Pos 4 istirahat sejenak kamudian melanjutkan menuju Ranu Kumbolo, disini kami kebingungan mencari jalan karena ada banyak jalan setapak akhirnya kami memutuskan untuk memilih jalan turun yang berada di pinggir Danau Ranu Kumbolo dan memutuskan untuk membuat tenda dan tidak bergabung dengan pendaki lain disudut lain Danau yang ke arah tanjakan Cinta menuju Semeru, karena kondisi cuaca yang sangat dingin. Beberapa diantara kita pun mendirikan 2 tenda dan yang lainnya memasak air. Kemudian sholat dan kemudian makan dan bercanda sejenak, kamudian tidur. Tidur pun tidak nyenyak karena tidak terbiasa dengan udara yang sangat dingin, kaki pun terasa kaku. Hingga akhirnya sampai subuh, kamudian sholat tapi sayang gak ada yang liat Sunrise, temen-temen pada tidur. Saat kita bangun kondisi Pingkan sudah membaik, kemudian jam 06.00 WIB kita mulai masak dan sebagian ada yang foto-foto dengan gaya yang narsis-narsis, termasuk aku, hehe.... kamudian jam 06.30 WIB kita makan dengan makan seadanya. Setelah itu jam 8.00 WIB sebagian menuju di sudut lain danau Ranu Kumbolo disinilah Rino mendapat julukan Rinokumbolo dan menuju tanjakan cinta tapi cuman untuk ngambil gambar aja dan sebagian lain mebersihkan lokasi beristirahat. Jam 10.00 temen-temen kembali dari Tanjakan Cinta dan berkemas-kemas untuk kembali turun gunung. Untuk ke Puncak Mahameru lain kesempatan ja.... hehe..... Akhirnya setelah jam 10.30 WIB kita foto-foto bersama dan kemudian berdoa bersama.
Ranu Kumbolo
Di Pinggir Danau Ranu Kumbolo
Berangkatlah kita dengan medan yang sudah diketahui sebelumnya jadi perjalanan lancar. Dalam perjalanan kembali, pada waktu di Pos 4 kita membagi kedalam 2 kelompok ber-5 turun gunung dengan kecepatan tinggi dan sisanya santai, akan tetapi yang ber-5 menunggu yang ber-3 disetiap pos, kita pun salip-salipan dengan orang gemuk dan temannya yang menemaninya dengan sabar mereka dari Surabaya. Rino pun mengajak bercanda dengan orang dari surabaya itu “Mas Duluan, nanti tak salip lagi”. Mas-nya pun tersenyum, “Silahkan, hehe...”. Kami ber-5 sesampainya di Pos 3 istirahat sambil menunggu yang ber-3 sampai. Di pos 3 kami bercanda dengan 2 pendaki lain dari Bandung, Topan : “Dari Mana Mas ?” Orang Bandung : “dari Bandung”, Topan : “Owh tadi kami sering ketemu pendaki dari Bandung”. Orang Bandung : “Pantesan Bandung Sepi, pada kesini semua ternyata, hehe...”, sambil nyengir. Kemudian Mas yang gemuk dan temannya dari Surabaya sampai Pos 3 disitu mereka bersitirahat sebentar dan melanjutkan lagi, diikuti pendaki lain yang mau turun. Setelah itu kelompok dari team kita yang ber-3 sampai di Pos 3. Sesampainya di Pos 3 kita tunggu sampai siap lalu berangkat lagi menuju pos 2 yang berjarak 4,5 km kelompok yang ber-5 berjalan dengan kecepatan tinggi. Rino dan Winda sampai duluan di Pos 2, mereka menunggu sekitar 30 menit untuk berkumpul semua (ber-8), kemudian kami ber-5 melanjutkan perjalanan ke Pos 1 dimana kita jalan tanpa beristirahat karena sudah tahu medan yang akan dilewati. Kemudian setelah sampai Pos 1 kami pun bersitirahat sejenak dan bertemu dengan pendaki lain dari Samarinda dan Lombok yang baru akan naik menuju puncak Semeru. Setelah itu datanglah kelompok kita yang ber-3 kamudian istrahat sejenak, kamudian kami yang ber-5 melanjutkan ke Ranu Pane, juga dengan kecepatan tinggi, setelah itu kaki mulai terasa seperti engselnya mau copot hehehe…… setelah sampai Ranu Pane beberapa diantara kami yang berlima ada yang mandi, sholat, dan istirahat, sambil menunggu yang ber-3 datang. Kemudian yang bertiga selesai dan akhirnya selesai juga pendakian menuju Ranu Kumbolo senang bercampur pegal-pegal diaduk menjadi satu. Setelah persiapan dan istirahat cukup kami melapor ke Petugas TN Bromo, Semeru, Tengger setelah itu kamipun berangkat menuju perjalanan pulang dan kabutpun datang. Rencana kami sepakat untuk lewat Probolinggo, akan tetapi karena hujan daerah yang berpasir di Probolinggo tidak dapat dilewati kami pun memutar kembali ke-arah Senduro. Aku mulai khawatir ketika berbalik arah menuju Senduro karena sudah sore hari dan matahari mulai terbenam, awal berangkat pun ada orang jalan bawa tongkat di tebing habisnya Ranu Pane, kita sapa bukannya jawab eh malah orang itu marah-marah malah mau mukul alvian yang pake motor berwarna merah. Di tengah hutan Senduro pun aku terus siaga takutnya ada rampok (begal dalam bahasa jawa), kita pun jalan berjalan berdampingan dan beberapa kali berpapasan dengan pengendara lain. Setelah sampai ditengah hutan diantara kami motornya ada yang tergelincir untungnya tidak sampai jatuh, dalam gelap kami pun terus berdoa supaya selamat sampai tujuan. Alhamdulillah sampai perkampungan warga kita masih diberi keselamatan. Kemudian kami mencari warung untuk makan, setelah itu kami melanjutkan ke POM Bensin untuk istirahat, sholat dan tentunya mengisi Bensin. Di mushola SPBU ada ibu-ibu bertanya “dari mana dek ?”, kami pun menjawab “dari Jember”, Ibu-ibu : “mau kemana ?” kami : “habis dari Ranu Kumbolo”. Ibu-ibu : “lho jam segini mau mendaki ?”. Kami : “ gak ibu, kami habis dari Ranu Pane”. Ibu-Ibu : “kalau lewat Senduro jangan pake motor berwarna merah malam hari, karena motor merah selalu jadi korban makhluk halus, untuk rampok (begal) aman kok dek kalau lewat senduro, ibu sendiri pernah pake motor berwarna merah seperti diikuti orang buesar di belakang, dan ada kecelakaan mobil berwarna merah jatuh ke jurang pada malam hari. Terus ibu itu pamitan pulang. Kita pun akhirnya pulang dengan selamat dengan penuh bersyukur, Alhamdulillah….















Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments


Facebook

Followers

Labels

- Copyright © Cyber Knowledge -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -